KELIMA CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR
KRITIK ESAI LIMA CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR
Seperti pekan-pekan sebelumnya, saya akan mengulas tentang karya sastra yaitu cerpen. Cerpen yang akan saya ulas kali ini karya seorang Sastrawan yang bernama M. Shoim Anwar. Tentunya nama M. Shoim Anwar tidak asing lagi di dunia sastra tanah air. M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong, Dukuh, Jombang pada tanggal 16 Mei 1963. M. Shoim Anwar banyak menulis cerpen, novel, esai, dan puisi di berbagai media.
Cerpen karya M. Shoim Anwar yang akan saya ulas kali ini yaitu Sorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Aryanti, Bambi dan Perempuan berselendang Baby Blue, Tahi Lalat, dan Jangan ke Istana, Anakku. Setiap cerpen pasti memiliki kesamaan maupun perbedaan, entah itu dari unsur intrinsik, keadaan sosial, maupun yang lainnya.
Pada cerpen Sorot Mata Syaila menggambarkan tentang seorang laki-laki yang bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki sorot mata yang begitu indah. Perempuan itu bernama Syaila. Laki-laki tersebut seakan-akan ingin selalu berlama-lama dengan perempuan yang baru saja ketemu saat berada di dalam pesawat. Sudah menjadi hal wajar pada kehidupan sehari-hari jika laki-laki memiliki ketertarikan atau kasih cinta terhadap seorang perempuan. Kepergian laki-laki itu dari tanah air karena ingin menghambat proses hukum yang di alami saat itu. Ia menjadi buron karena diduga teraliri dana dalam bentuk kepemilikan saham perusahaan. Usahanya sangat luar biasa untuk menyewa pengacara handal agar tidak masuk dalam sel tahanan. Laki-laki tersebut memiliki sifat yang tidak jujur dan mengentengkan sistem hukum yang harusnya ia dapatkan. Kemudian, Sosok Syaila pada cerpen tersebut seakan-akan membuat laki-laki tersebut terhipnotis. Pada akhir cerita sosok Syaila tiba-tiba menghilang bersama gelapnya lorong yang di lalui. Di lorong tersebut laki-laki itu seperti melihat keluarganya yang di gantung. Hal tersebut bisa saja menjadi peringatan untuk laki-laki tersebut atas perbuatan yang selama ini Ia lakukan. Hal ini seperti halnya pada kutipan berikut.
Ada yang mengatur agar statusku tidak bocor ke publik. Pada saat itulah aku dengan cepat melarikan diri keluar negeri. Tentu saja dengan beberapa skenario yang sudah kupersiapkan sejak kasusku mulai diungkap. Semua keluarga sudah diskenario agar satu suara, bila perlu bungkam.
Nanti, ketika berkas perkaraku dilimpahkan ke kejaksaan untuk dibuat tuntutan, aku dapat informasi bahwa statusku sebagai tersangka mau tak mau akan terbuka di kejaksaan. Pun sudah ada yang memberi tahu bahwa kejaksaan akan meminta pihak imigrasi untuk mencekal aku pergi ke luar negeri. Dan benar, ketika berita ramai tersiar bahwa aku dicekal, posisiku sudah di luar negeri. Inilah enaknya punya jaringan khusus di lembaga peradilan. Aku merasa sedikit beruntung kasusku ditangani mereka. Andai yang menangani KPK, mungkin aku sudah meringkuk di sel.
Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti ini memiliki persamaan dengan cerpen sebelumnya yaitu Sorot Mata Syaila. Pada kedua cerpen ini terdapat ketidakjujuran seseorang dari perbuatan yang dilakukan. Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti ini membandingkan negara Indonesia dengan negara lain yang pembangunannya lebih cepat dibandingkan dngan negara Indonesia yang dalam proses pembangunannya sangat lambat. Hal itu dibuktikan dengan kutipan “Johor adalah satu-satunya provinsi yang memperbolehkan kepemilikan asing dan penanaman modal asing. Tak heran jika pembangunan fisik di provinsi itu berjalan begitu cepat.”
Selain untuk menyindir negara Indonesia yang pembangunnanya sangat lambat cerpen ini juga menceritakan perbuatan para politikus yang mengatasnamakan rakyat agar kebusukan mereka tidak tercium oleh rakyat. Salah satuhnya yaitu menyuruh gadis-gadis cantik itu untuk dekat dengan lawan politik mereka sehingga apa yang mereka lakukan tidak tercium. Sebegitu pintarnya para politik sekarang yang menggunakan segalah cara. Tanpa mereka sadari bahwa yang mereka lakukan itu berimbas pada masyarakat kecil namun bagi para penguasa yang terpenting adalah harta dan kekuasaan. Hal ini seperti dalam kutipan berikut.
Aku mendapat perintah untuk ’’menyembunyikan” Aryanti dengan ’’berbagai cara” karena dia adalah saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan. Sengaja kata itu digunakan dan aku harus menerjemahkannya sendiri. Ambigu, tapi sudah menjadi kelaziman agar pemberi perintah dapat berkelit ketika terjadi hal yang tidak dikehendaki. Dan pastilah aku yang dipersalahkan dan dikorbankan. Sebuah pertaruhan klasik seorang bawahan.
Sementara itu, Aryanti harus menurut karena skenario besar telah dimainkan yang juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Maka, Aryanti pun harus ditempel dan tak boleh lepas dari pantauan. Meski awalnya tampak ketakutan, lama-lama dia bisa mencair karena sudah mengenalku dengan baik. Barangkali kehadiranku sebagai penyelamat juga diharapkan karena dia diusik banyak orang dan diburu para pencari berita.
Cerpen Bambi dan Perempuan berselendang Baby Blue tidak jauh berbeda dengan cerpen sebelumnya yaitu menyangkut tentang hukum. Cerpen Bambi dan Perempuan berselendang Baby Blue menceritakan tentang menceritakan seorang yang berumur berhubungan dengan wanita cantik. Banyak sekali orang-orang yang berpikiran bahwa hal tersebut dilakukan oleh wanita tersebut hanya untuk menguras harta laki-laki berumur itu. Laki-laki tersebut begitu bangga ketika menjalin hubungan dengan wanita cantik tersebut. Lagi-lagi cerpen ini menyangkut tentang masalah hukum. Kasus tersebut tentang kebohongan yang dilakukan oleh Bambi kepada kliennya. Bambi memiliki sifat yang busuk. Ia membohongi kliennya dengan meminta uang dengan embel-embel akan memenangkan perkara persidangan. Namun, semua yang dikatakan oleh Bambi hanyalah omong kosong. Seperti pada kutipan berikut
Beberapa saat dia berhenti membenahi kancing celananya. Tampak ada yang basah di sekitar resluiting.
“Aku ingin bicara,” kata saya di mulut toilet.
“Bicara apa?” Bambi mengarahkan pandangan ke muka saya.
“Putusanmu. Mengapa aku kau kalahkan?”
“Aku sudah mengusahakan agar kau yang menang di pengadilan, tapi tak ada dissenting opinion.”
“Bagaimana ada, wong hakim tunggal, cuma kamu saja!”
“Sudah saya mintakan pendapat di luar sidang.”
“Yang mimpin sidang kan kamu. Dengan hakim tunggal mestinya kau bisa putuskan sesuai janjimu!”
Bambi tampak sangat tidak nyaman. Wajahnya memerah, dia lihat ke segala arah. Sengaja saya menghadang langkahnya agar tidak menghindar. Saya pun sengaja mengeraskan suara agar didengar banyak orang.
“Pengacara tergugat pintar. Dia bisa menggugurkan tuntutan jaksa.”
“Tapi mengapa dulu kamu mendorong-dorong aku agar menggugat perkara itu. Kamu panas-panasi aku. kamu menjanjikan akan memenangkan aku. Terus untuk apa kamu minta uang segitu banyak yang katanya untuk minta tolong pada anggota majelis lainnya? Kau bagikan pada siapa saja uang itu? Atau kau nikmati sendiri?”
“Jangan bicara seperti itu. Kamu bisa dikenakan pasal perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik.”
“Aku tidak bodoh. Saat penyerahan uang itu di rumah, aku sudah pasang CCTV agar bisa merekam semuanya. Sudah telanjur basah.”
Bambi sontak terperangan lagi, wajahnya warna bunga waribang. Dia berusaha lepas dari blockade. Saya menghalanginya dengan merentangkan tangan.
“Kamu bisa banding kalau tidak puas,” katanya kemudian.
“Itu rusan nanti!”
“Masih ada waktu tiga hari,” Bambi mengacungkan jarinya.
“Di pengadilan tinggi yang ngurusi sudah beda. Omongnya saja bisa memenangkan kasus. Mana buktinya? Gombal!”
Selanjutnya cerpen Tahi Lalat. Cerpen Tahi lalat ini menceritakan tentang permasalahan rumah tangga Pak Lurah dan isu-isu mengenai keberadaan tahi lalat yang ada di dada istri Pak Lurah. Banyak orang yang membicarakan tahi lalat yang dimiliki oleh istri Pak Lurah. Kabar tersebut semakin menyebar luas dari mulut ke mulut hingga semua masyarakat mengetahui hal itu. Seperti halnya kutipan berikut.
Semakin mendekati masa pendaftaran calon lurah, berita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah semakin santer. Bumbu-bumbu pembicaraan makin banyak. Pembicaraan tidak hanya tertumpu pada tahi lalat di dada istri Pak Lurah, tapi meluas hingga sekujur tubuh istri Pak Lurah ditelanjangi.
Aku yakin Pak Lurah dan istrinya sudah mencium kasak-kusuk di sekitarnya. Mungkin untuk mengamankan pencalonannya kembali sebagai lurah, dia sengaja memilih diam dengan harapan pembicaraan itu akan menghilang dengan sendirinya. Tapi, dengan sikap diamnya itu, aku curiga jangan-jangan pembicaraan itu benar adanya. Kata-kata ‘diam pertanda setuju’ hadir dalam pikiranku. Memang, Pak Lurah dan istrinya serbasalah. Apa pun yang dikatakannya dijamin tidak akan dapat meyakinkan tanpa bukti fisik.
Jika dikaitkan dengan keadaan saat ini yaitu bahwa sesuatu kabar yang dianggap baik maupun tidak akan cepat menyebar dari mulut orang ke orang lain. Dan sudah menjadi suatu kebiasaan khususnya di Indonesia sendiri bahwa setiap yang dilakukan orang lain tidak terlepas dari komentar ataupun kritik dari orang lain.
Selain itu cerpen ini juga menceritakan tentang menyalah gunakan jabatan untuk kepentingan pribadinya. Sosok Pak Lurah ini sering menggunakan cara-cara yang kotor dalam menjalankan tugasnya. Banyak janji-janji manis yang di lontarkan namun tidak ada buktinya. Apa yang dilakukan Pak Lurah ini juga menimbulkan dampak tidak baik terhadap masyarakatnya. Semua yang dilakukan Pak Lurah untukkepentingannya sendiri tanpa memikirkan bagaimana nasib masyarakatnya tersebut. Hal tersebut seperti kutipan berikut.
Jujur kukatakan, Pak Lurah juga sering menggunakan cara-cara kotor. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladang dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tinggal di tempat strategis, melalui perangkat desa Pak Bayan, dirayu untuk menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah semakin gencar membujuk yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan.
“Kalau tidak mau menjual, akan dipagari oleh pengembang perumahan,” begitulah kata-kata intimidasi yang sering dilontarkan Pak Bayan kepada warga.
Seharusnya, sebagai seorang yang memiliki jabatan memberikan contoh yang baik pada masyarakatnya. Dapat memberikan kenyamanan dan juga memberikan dampak positif bagi masyarakat. Jika di hubungkan dengan keadaan saat ini, bahwa banyak seorang pejabat yang menyalah gunakan tanggung jawabnya untuk kepentingan pribadinya. Saat ini memang banyak pejabat-pejabat yang melakukan korupsi, menggunakan uang negara untuk kepentingan individu. Selain itu, memang ada bentuk nyata bahwa setiap orang yang ingin mencalonkan diri sebagai pejabat menjanjikan hal-hal yang manis agar terpilih, dan mereka akan lupa dengan janji-janji tersebut jika sudah sah menjadi pejabat. Mereka tidak memikirkan bagaimana nasib yang akan di rasakan oleh rakyatnya.
Selanjutnya cerpen yang terakhir yaitu Jangan ke Istana, Anakku. Berbeda dengan cerpen sebelumnya, cerpen ini menceritakan tentang sesuatu yang bersangkutan dengan istana. Cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” mengungkapkan pandangan pengarang yang masih melihat pemikiran orang zaman dahulu, yang masih mempercayai adanya tumbal. Kesengsaraan yang dialami para tokoh, dan keterpaksaan yang dialami tokoh “aku” dalam menjalankan tugas yang diberikan dan tokoh “aku” tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya. Tokoh “aku” juga kehilangan kebebasannya. Seperti terdapat pada kutipan:
“Konon perempuan-perempuan cantik itu dijadikan wadal alias tumbal istana, dimasukkan ke sumur lorong gelap bawah tanah yang dihuni oleh Nyi Blorong peliharaan istana.”
“Istana yang laknat. Mengapa aku, istri, dan anak kesayanganku, semua diganyang oleh istana. Sudah sering aku melihat kejadian serupa. Perempuan muda dibawa masuk dihadapkan baginda. Lalu musnah tak ada ceritanya. Tubuhku serasa meleleh dan hancur.”
“Tapi ini bukan kebebasan selamanya. Orang-orang suruhan istana selalu mengintai gerak langkahku. Aku dimata-matai karena dikhawatirkan bersekongkol dan membocorkan rahasia”.
Pada cerpen Jangan ke Istana, Anakku ini banyak perbedaan strata sosial yang terjadi di tengah masyarakat dan masih berlakunya tindakan atau penindasan terhadap masyarakat bawah. Dan juga ketikadilan bagi masyarakat kelas bawah atas perlakuan dari masyarakat kelas atas yang bertindak semena-mena. Dan juga para begandal korup yang yang suka memeras sehingga membuat rakyat menjadi pihak yang kalah. Dalam cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” pengarang mengekspresikan pandangannya yaitu kebebasan. Di mana kebebasan dengan hidup sederhana dan tak banyak aturan. Jika dihubungkan dengan kondisi saat ini, banyak orang yang rela jauh dari keluarga untuk mencari nafkah dan mencukupi kehidupan keluarganya. Apapun akan dilakukan agar keluarganya dapat bertahan hidup.
Jadi dapat disimpulkan dari kelima cerpen karya M. Shoim Anwar tersebut bahwa memiliki kesaaman dari segi ceritanya yang menceritakan tentang hukum, ketidakjujuran, dan juga penindasan terhadap bawahan.
TERIMA KASIH
DAFTAR PUSTAKA
https://helinsusanti94.blogspot.com/2017/06/esai-sastra-cerpen-sepatu-jinjit.html di lihat pada tanggal 10 Juli 2021 pukul 13:45 WIB.
https://mfauzitrenggalek.blogspot.com/2019/05/esai-sastra-cerpen-bambi-dan-permpuan.html di lihat pada tanggal 10 Juli 2021 pukul 14:47 WIB.
https://serigalaputihaudian.blogspot.com/2017/06/analisis-cerpen-jangan-ke-istana-anakku.html di lihat pada tanggal 10 Juli 2021 pukul 19:06 WIB.
https://blog-teorisastra.blogspot.com/2017/06/menganalisis-cerpen-menggunakan-teori.html di lihat pada tanggal 10 Juli 2021 pukul 19:14 WIB.
Komentar
Posting Komentar