Wiji Thukul

 PERINGATAN
(Wiji Thukul)


Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gasat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

 

Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

(Wiji Thukul)

 

Apa guna punya ilmu

Kalau hanya untuk mengibuli

Apa gunanya banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Di mana-mana moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong

Dengan kaum cukong

Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

Apa guna banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu


Kritik dan Esai Puisi Wiji Thukul

Sebelum mengulas mengenai puisi di atas, saya akan menjelaskan terlebih dahulu pengarang dari puisi tersebut yaitu Wiji Thukul. Wiji Thukul yang bernama asli Widji Widodo ini lahir di Solo, 23 Agustus 1963. Wiji Thukul adalah salah satu tokoh yang terlibat dalam melawan penindasan rezim Orde Baru kala itu. Meskipun dalam keadaan bersembunyi dalam kejaran aparat, Wiji Thukul tetap bersemangat untuk menulis puisi yang begitu indah. Banyak puisi yang diciptakan oleh Wiji Thukul salah satunya yaitu “Peringatan” dan “ Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”. Wiji Thukul di kabarkan menghilang begitu saja sejak tahun 1998 hingga sekarang. Banyak yang menduga bahwa menghilangnya Wiji Thukul karena diculik oleh militer.

Pada puisi yang pertama yaitu berjudul “Peringatan” menggambarkan tentang ketidakpedulian pihak penguasa terhadap rakyatnya. Hal ini ditunjukan pada penggalan puisi sebagai berikut.

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gasat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

Pada penggalan puisi di atas terlihat bahwa banyak rakyat yang mengeluh mengenai tidak adanya keadilan dalam pemerintahan. Suara rakyat diacuhkan begitu saja oleh penguasa tanpa diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang menjadi unek-unek rakyat saat itu. Semua yang di perintahkan atau ditetapkan  oleh penguasa tidak boleh dibantah oleh rakyat. Jika hal itu terus terjadi maka akan menimbulkan ketidaknyamanan dan keamanan dalam kehidupan sehari-hari  rakyat. Jalan satu-satunya untuk mengatasi permasalahan ini yaitu bersama-sama melakukan aksi agar mendapatkan hak asasi manusia. Seharusnya pemerintah dan rakyat saling bekerjasama dalam menciptakan negara yang adil dan makmur.

Pada puisi yang kedua yaitu “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” menggambarkan tentang pemerintahan yang semena-mena atau licik dalam menjalankan tugasnya. Hal ini ditunjukan pada penggalan puisi sebagai berikut.   

Di mana-mana moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong

Dengan kaum cukong

Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

Apa guna banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Pada penggalan puisi di atas terlihat bahwa rakyat merasakan ketidakadilan terhadap apa yang dilakukan pemerintah saat itu. Pemerintah memperlakukan rakyatnya secara semena-mena, memaksa untuk mematuhi apa yang diinginkan oleh pemerintah. Pemerintah juga bekerjasama dengan orang-orang yang berkuasa untuk membohongi rakyat yang ada di desa untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Pemerintah menyalahgunakan kepandaiannya untuk menindas rakyatnya. Lalu apa gunanya selama ini memiliki banyak ilmu namun tidak bisa di terapkan dengan baik kepada rakyatnya. Sebaiknya, ilmu yang kita dapatkan dari manapun sumbernya diamalkan dengan baik agar bermanfaat atau berkah dalam dalam kehidupan sehari-hari. Jangan menyalahgunakan ilmu yang didapat untuk selama ini untuk merugikan orang lain.

Pemilihan diksi pada puisi karya Wiji Thukul ini mudah di pahami dan lugas. Puisi tersebut juga dapat menjadi pembelajaran bagi kita untuk bersikap adil dan jujur terhadap sesame agar hidup secara damai dan harmonis.

Komentar