Cerpen "Sulastri dan Empat Lelaki"

 Kritik dan Esai Cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” 

karya M. Shoim Anwar


Cerpen merupakan suatu karya sastra yang diciptakan oleh pengarang dalam bentuk tulisan dengan alur cerita yang jelas dan ringkas. Salah satu contoh cerpen yang menarik untuk dibaca yaitu Sulastri dan Empat Lelaki karya dari  M. Shoim Anwar.  M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. M. Shoim Anwar telah banyak menulis cerpen, novel ataupun karya tulis lainnya. 

Sesuai dengan judulnya, dalam cerpen ini terdapat tokoh Sulastri dan empat laki-laki yaitu Markam (Suami Sulastri), Polisi, Firaun, dan Musa. Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki menceritakan seorang perempuan bernama Sulastri yang hidupnya berada dalam penderitaan. Dalam cerpen ini, Sulastri tidak dinafkahi oleh suaminya yang sibuk dengan bertapa (menyembah berhala). Seperti halnya dalam kutipan berikut.

“Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa meninggalkan kemewahan. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta berlimpah. Tapi kau meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!” (Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki, Jawa Pos, 6 November 2011).

Pada kutipan tersebut, terlihat jelas bahwa Sulastri merasa menderita karena kehidupannya tidak terpenuhi. Hal ini terjadi karena suami Sulastri pergi begitu untuk bertampa tanpa memikirkan kehidupan sehari-hari istri dan anak-anaknya. Sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga Tidak hanya dalam cerpen ini saja, dalam kehidupan nyata pun faktor ekonomi  memang memegang peran penting dalam meningkatkan status sosial seseorang. Bahkan ada yang rela meninggalkan negaranya untuk merantau ke tempat lain, dengan harapan dapat memperbaiki perekonomian.

Hingga akhirnya  Sulastri memutuskan untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita yang tengah diperbudak oleh Firaun yang memang benar-benar kejam. Sulastri diminta untuk mematuhi apa yang diperintahkan oleh Firaun tanpa membantah keinginannya. Sulastri disini dianggap lemah oleh Firaun sehingga dapat diperlakukan seenaknya sendiri tanpa adanya keadilan. Banyak yang berfikir bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan itu tidak seimbang, sehingga perempuan diperlakukan seenaknya sendiri oleh laki-laki. Pada akhirnya Sulastri bertemu dengan Musa, orang yang menolongnya dari cengkraman Firaun tersebut. 

Dalam cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” ini ceritanya hampir menyerupai dengan cerita pada kisah Nabi Musa AS yang dapat membelah laut Laut Merah untuk berlari dari kejaran Fir’aun hingga akhirnya tenggelam dalam Laut Merah tersebut. Seperti halnya dalam kutipan berikut. 

Sulastri terjingkat. Sesosok tubuh tiba-tiba merekah. Tubuh yang sering diingat sebagai sang penerkam sekonyong-konyong muncul dari dalam laut. Sulastri menjerit menyebut namanya. “Firauuun…!” ((Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki, Jawa Pos, 6 November 2011).

Pada kutipan tersebut, di ceritakan bahwa sosok Firaun yang tiba-tiba memunculkan dirinya dihadapan Sulastri, kemudian Sulastri di kejar oleh Firaun yang beranggapan bahwa Sulastri adalah budak  yang mau menuruti apa saja kemauan Firaun. Sulastri sangat ketakutan hingga berlari menjauhi Firaun tersebut. Dari cerita tersebut, mengingatkan pada cerita penguasa Mesir yang bernama Firaun. Firaun yang menganggap dirinya adalah tuhan yang ingin disembah oleh semua orang.

Sulastri terus berlari dan berteriak-teriak minta tolong namun tidak ada yang menolongnya. Firaun terus mendekati Sulastri, Firaun melangkahkan kakinya makin cepat lalu berlari. Jarak pun makin dekat, Sulastri makin memeras tenaganya. Tiba-tiba Sulastri terkejut di depannya muncul seorang lelaki setengah tua, rambut putih sebahu, tubuh tinggi besar, berjenggot panjang. Laki-laki tersebut mengenakan kain putih menutup perut hingga lutut. Ada selempang menyilang di bahu kanannya. Tangan kanannya membawa tongkat dari kayu kering. Sulastri memanggil sosok ini dengan sebutan Musa. Sulastri akhirnya meminta bantuan kepada Musa, namun Musa tak langsung menolongnya. Ada beberapa bercakapan yang mereka lakukan, salah satu percakapannya yaitu seperti “Suamimu seorang penyembah berhala. Mengapa kau bergantung padanya?” Kata Musa. Jika dikaitkan dengan kehidupan nyata saat ini yaitu masih banyak orang musyrik (menyembah selain Allah SWT). Pada saat ini masih ada yang tidak peduli terhadap urusan agama dan lebih memilih sibuk dengan urusan dunianya. Banyak orang yang terjerumus ke dalam hal-hal yang memang diharamkan oleh Allah Swt.

Tiba-tiba sosok yang dipanggil dengan sebutan Musa tersebut menghablur dalam pandangan Sulastri . Firaun tidak berhenti mengejar Sulastri, justru semakin mendekat dan bisa menangkap Sulastri. Tak lama kemudian Musa kembali hadir menemui Sulastri, namun hadir sebagai siluet yang samar-samar. Musa berniatan untuk membantu Sulastri dari kejaran Firaun. Seperti halnya dalam ketipan berikut.

lelaki yang tadi dipanggil sebagai Musa tiba-tiba muncul lagi di hadapannya. Tapi kali ini hadir sebagai siluet yang samar. Sulastri meraih dan memeluknya sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun. Saat itu juga Sulastri merasakan ada benda di genggamannya. Makin nyata dan nyata. Benda itu adalah tongkat (Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki, Jawa Pos, 6 November 2011).

Pada kutipan tersebut, Sulastri mendapatkan pertolongan dari kejaran Firaun yang kejam itu. Sulastri diselamatkan oleh Musa yang menggunakan bantuan tongkat kayu kering miliknya tersebut. Dan akhirnya Sulastri selamat dari kejaran Firaun. Cerita ini seperti kisah Nabi Musa yang di turunkan oleh Allah SWT untuk menyadarkan Fir’aun. 

Pada saat itu tubuh Firaun hancur jadi berkeping-keping di pasir. Bersamaan dengan itu angin kencang menyeret ombak ke daratan. Dari dalam laut Sulastri melihat semacam ular besar menjulur dan menyedot kepingan-kepingan tubuh Firaun. Sulastri  mendapati dirinya bersimpuh di pasir pantai. Sulastri di tepi Laut Merah yang sepi, jauh dari anak-anak dan keluarganya.

Dilihat dari segi politik cerpen ini yaitu menggambarkan seseorang bergelimang harta dan juga kekuasaan  yang memperlakukan orang lain seenaknya sendiri tanpa memikirkan dampak yang akan menimpa. Jika ditelaah lebih mendalam, menghargai sesama manusia dapat menyelamatkan seseorang dalam hal yang negatif. Apabila seseorang yang memiliki jabatan tinggi namun tidak dapat menghargai orang lain atau sombong maka suatu saat ketika sudah berhenti menjabat tidak akan dihormati lagi oleh orang lain.

Dilihat dari segi religius cerpen ini yaitu menggunakan nama tokoh yang sama dengan kisah para nabi. Seperti tokoh yang bernama Fir’aun yang merupakan salah satu raja di Mesir. Kemudian, kebiasaan yang dilakukan oleh Markam yang menyembah berhala sama halnya orang-orang pada cerita kisah Nabi Musa AS yang masih menyembah berhala.

Dilihat dari segi sosial cerpen ini yaitu menggambarkan seorang suami yang tidak bertanggung jawab atas anak dan istrinya. Karena, faktor ekonomi akan menyebabkan permasalahan dalam rumah tangga sehingga kehidupannya menjadi kesulitan. Sudah kewajiban seorang suami untuk menafkahi anak istrinya. Tapi hal ini juga masih banyak terjadi di masyarakat, ambil contoh saja orang Indonesia. Banyak orang Indonesia yang seperti itu, hingga akhirnya seorang istri rela jauh dari keluarga untuk merantau ke negara orang dengan harapan kehidupan keluarganya menjadi lebih baik. 

Amanat yang terdapat dalam cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” ini adalah Pertama, sebagai sesama manusia harus saling menghargai, saling membantu jika ada yang membutuhkan pertolongan, dan bersikap adil. Kedua, seorang suami harus manafkahi istri dan keluarganya karena sudah menjadi kewajibannya sebagai kepala keluarga.

Penggunaan kata dalam cerpen “Sulastri dan Empat Lelaki” mudah dipahami oleh pembaca. Penggambaran ceritanya sangat jelas dan sangat rinci, menggunakan nama tokoh yang berbeda sehingga pembaca tertarik ingin membacanya. 

Komentar